Sepucuk Surat Untuk Ayah dan Ibu.
Memilih untuk beranjak dari kampung halaman untuk menempuh pendidikan,adalah hal yang sangat berat bagi mahasiswa/perantau. Meninggalkan orang-orang terdekat seperti ayah, ibu, sahabat masa kecil, saudara, merupakan suatu keharusan yang harus di jalankan sebagaiaman layaknya seorang pejuang yang rela tersiksa untuk meraih kesuksesan. Kita juga (perantau), tak kalah dengan pahlawan yang pernah berjuang melawan derasnya gelombang penjajahan, demi kejayaan negara tercinta. Sebagai seorang anak yang mempunyai watak seperti pahlawan yang meraih kesuksesan dalam berjuang melawan tantangan kuliah dalam menempuh pendidikan ,merupakan sebuah target utama kala ia masih berada di kampung halamanya. Banyaknya tantangan yang aku alami di tanah rantau ini, tidak membuatku untuk menjadikan sebuah alasan untuk aku mundur dan kembali berkumpul bersama ayah dan ibu di kampung. Malas kuliah,mabuk-mabukan, judi, hobi pacaran hingga sampai menjadi seorang legend di kampus adalah tantangan besarku untuk menjadi seorang sarjana sesuai amanah dari ayah dan ibu.
Aku tahu dan sadar bahwa di balik senyuman manis dari ayah dan ibu, ada segudang luka yang tak bisa di bendung. Kalian selalu senyum, ketika anakmu meminta jatah bulanan, dengan penuh tanggung jawab sebagaimana tugasmu sebagai orang tua, kalian rela di bakar oleh panas teriknya matahari untuk mendapatkan sesuap nasi, untuk menghidupi kami yang tak tau balas budi ini. Raga kalian sangat lelah dan letih, namun kalian masih saja menyisakan waktu untuk memeberikan senyum kepada anak-anakmu. Mengapa kalian tidak memberitahu kami tentang sakit yang kalian alami?.
Makan makanan yang enak di tanah tempat perjuangan ini adalah sebuah gaya hidup anakmu tanpa bisa melihat dan mengingat bahkan tidak peduli dengan kalian di sana makan apa.
Mungkin saja kalian menikmati nasi basi di campur dengan garam ataukah kalian hanya menikmati ubi hasil tanaman kalian, itu tidak ku sadari. Aku hanya bisa menikmakti dunia ku dan mengabaikan pesan kalian. Di tanah rantau ini aku seperti sebuah perahu di tengah laut yang di tinggalkan pemiliknya ,aku kehilangan arah hingga tak tahu harus kemana, aku berlabuh.
Ayah ibu , kuliah ku hancur berantakan, namun kalian masih tetap memberi dukungan dan tak pernah berhenti memberikan motivasi agar aku tetap melangkah. Aku masih ingat di kala aku menelfon kalian karena maslah kuliahku dan meminta jatah bulanan ,tanpa ada rasa kecewa sedikitpun, kalian hanya meresponya dengan santai dan senyum. Aku tahu bahwa di balik jawabanmu yang santai itu ada luka yang tersimpan di hati kalian, namun betapa hebatnya kalian menutupi itu semua hanya karena kalian mau mendukung kesuksesanku.
Nak...., kamu jangan pernah berhenti untuk berjuang sampai kapanpun. Jangan jadikan masalahmu untuk kau mundur, kami akan tetap selalu mendukungmu dan ingin membawamu ke sebuah dermaga kesuksesan, kami tidak peduli kapan kamu akan pulang dan membawa ijazah yang sudah berisi ilmu, yang terpenting kamu sukses dan kamu bisa hidup sedikit membaik. Ini adalah sebuah pesan dari ayah dan ibu sebagai orang tua yang kuat dan siap menerima tantangan.
Ayah dan ibu, kalian adalah orang hebat yang aku kenal di dunia ini, kalian seperti matahari yang selalu setia memberikan kehangatan kepada anakmu,dan kalian seperti senja yang selalu memberikan keindahan di saat matahari sudah lelah memberikan kehangatan. Dari kalian aku belajar iklas dan sabar dalam menghadapi tantangan, kalian selalu mengajarkanku, bagaiaman aku harus bertahan di situasi yang sulit, tetapi ayah dan ibu mengapa kalian tidak memberi tahku bahwa kam sedang terluka karena aku, mengapa kalian hanya tersenyum di saat masalahku mengecewakan kalian. Kenapa?. Ayah, ibu hanya dengan doa yang ku lantunkan kepada sang kalik, aku bisa mengutarakan rasa rinduku kepadamu, agar kalian tetap sehat, dan selalu setia dalam mendukung perjuanganku.
Penulis; Jelo Jehalu.

sumber foto;Geogle.
Aku tahu dan sadar bahwa di balik senyuman manis dari ayah dan ibu, ada segudang luka yang tak bisa di bendung. Kalian selalu senyum, ketika anakmu meminta jatah bulanan, dengan penuh tanggung jawab sebagaimana tugasmu sebagai orang tua, kalian rela di bakar oleh panas teriknya matahari untuk mendapatkan sesuap nasi, untuk menghidupi kami yang tak tau balas budi ini. Raga kalian sangat lelah dan letih, namun kalian masih saja menyisakan waktu untuk memeberikan senyum kepada anak-anakmu. Mengapa kalian tidak memberitahu kami tentang sakit yang kalian alami?.
Makan makanan yang enak di tanah tempat perjuangan ini adalah sebuah gaya hidup anakmu tanpa bisa melihat dan mengingat bahkan tidak peduli dengan kalian di sana makan apa.
Mungkin saja kalian menikmati nasi basi di campur dengan garam ataukah kalian hanya menikmati ubi hasil tanaman kalian, itu tidak ku sadari. Aku hanya bisa menikmakti dunia ku dan mengabaikan pesan kalian. Di tanah rantau ini aku seperti sebuah perahu di tengah laut yang di tinggalkan pemiliknya ,aku kehilangan arah hingga tak tahu harus kemana, aku berlabuh.
Ayah ibu , kuliah ku hancur berantakan, namun kalian masih tetap memberi dukungan dan tak pernah berhenti memberikan motivasi agar aku tetap melangkah. Aku masih ingat di kala aku menelfon kalian karena maslah kuliahku dan meminta jatah bulanan ,tanpa ada rasa kecewa sedikitpun, kalian hanya meresponya dengan santai dan senyum. Aku tahu bahwa di balik jawabanmu yang santai itu ada luka yang tersimpan di hati kalian, namun betapa hebatnya kalian menutupi itu semua hanya karena kalian mau mendukung kesuksesanku.
Nak...., kamu jangan pernah berhenti untuk berjuang sampai kapanpun. Jangan jadikan masalahmu untuk kau mundur, kami akan tetap selalu mendukungmu dan ingin membawamu ke sebuah dermaga kesuksesan, kami tidak peduli kapan kamu akan pulang dan membawa ijazah yang sudah berisi ilmu, yang terpenting kamu sukses dan kamu bisa hidup sedikit membaik. Ini adalah sebuah pesan dari ayah dan ibu sebagai orang tua yang kuat dan siap menerima tantangan.
Ayah dan ibu, kalian adalah orang hebat yang aku kenal di dunia ini, kalian seperti matahari yang selalu setia memberikan kehangatan kepada anakmu,dan kalian seperti senja yang selalu memberikan keindahan di saat matahari sudah lelah memberikan kehangatan. Dari kalian aku belajar iklas dan sabar dalam menghadapi tantangan, kalian selalu mengajarkanku, bagaiaman aku harus bertahan di situasi yang sulit, tetapi ayah dan ibu mengapa kalian tidak memberi tahku bahwa kam sedang terluka karena aku, mengapa kalian hanya tersenyum di saat masalahku mengecewakan kalian. Kenapa?. Ayah, ibu hanya dengan doa yang ku lantunkan kepada sang kalik, aku bisa mengutarakan rasa rinduku kepadamu, agar kalian tetap sehat, dan selalu setia dalam mendukung perjuanganku.
Penulis; Jelo Jehalu.

sumber foto;Geogle.


Komentar
Posting Komentar