Mahasiswa di tengah Covid 19.
Pandemi covid 19,kian hari terus menyebar dan menyerang imunitas tubuh mansia.Alhasil atas kinerja itu,dia bahkan mampu memakan ribuan korban jiwa, hal itu ketika kita melihat bagaimana perkembangan covid 19 di indonesia saat ini yang setiap harinya mengalami peningkatan baik Pasien Dalam Pengawasan (PDP), Orang Dalam Pemantauan (ODP), hingga sampai pada pasien yang positif corona.
Wabah penyakit ini merupakan bencana bagi semua negara di dunia tentunya. Bahwasanya pandemi covid 19 ini bukan hanya soal banyaknya korban jiwa yang berjatuhan, tetapi juga bagaimana pengaruhnya terhadap perekonomian negara, sistem sosial, budaya dan politik di dalamnya. Pemerintah di sibukan dengan memikirkan dua hal dalam situasi ini, dalam artian bahwa pemerintah mencari berbagai solusi untuk mencegah dan mengatasi pandemi ini, sehingga kemudian tidak membawa dampak yang sangat besar, baik untuk kesehatan, perekonomian, sosial , politik dan hal lain yang ikut terimbas dari pandemi covid 19 ini.
Adapun cara yang di lakukan oleh pemerintah Indonesia saat ini, yaitu dengan adanya tagar "Di Rumah Aja",itu artinya bahwa segala aktivitas itu di kerjakan di rumah, baik untuk ASN, mahasiswa, dan anggota legislatif dan executif lainnya. Bukan hanya itu, istilah social distancing yang kemudian di rubah menjadi Psychal distancing juga merupakan pola dari pemerintah untuk memutuskan Rantai penyebaran covid 19. Menjaga jarak , menghindarai perkumpulan atau melakukan altivitas yang mengumplkan masa adalah arti dari Psychal distancing, yang mana kemudian di ikuti dengan tindakan tegas dari aparat keamanan untuk membubarkan masyarakat yang masih saja melanggar arti dari psychal distancing ini.
Tagar "RUMAH AJA", memiliki dampak yang besar bagi masyarakat terutama untuk para perantau dan mahasiswa yang bekerja dan berkuliah di luar daerah. Bagi perantau yang mencari nafkah baik untuk memenuhi kebutuhannya ataupun keluarganya, pandemi global covid 19 ini mempengaruhi pendapatanya bahkan mereka harus pasrah untuk tidak memiliki pendapatan lantaran, perusahaan merumahkan mereka. Situasi ini yang kemudian banyak yang memilih untuk pulang ke kampung halaman.
Apa yang mereka lakukan ini adalah bukan sebuah bentuk ketidakikutsertaan mereka dalam memerangi covid 19 ini,tetapi karena suatu keadaan yang memaksa mereka untuk malakukanya. Kecemasan itu sudah pasti, bahkan di tolak oleh keluarga di kampungpun itu sudah konsekwensinya, tetapi karena kondisi inilah yang membuat mereka tak berdaya, sehingga pada akhirnya kecemasan itu di jadikan sebagai urusan belakangan yang penting jangan mati kelaparan.
Sedangkan untuk Kalangan mahasiswa,kuliah online adalah hal yang menuai pro dan kontra ,dengan berbagai alasan yang samapaikan.
Bagi yang mampu atau orangtuannya memiliki kondisi ekonomi yang baik, bisa saja kuliah online ini tidak merugikan mereka ataupun kerugiannya tidak terlalu besar. Di bandingkan dengan mahasiswa yang ekonomi orang tuanya dalam kategori ekonomi kelas menengah kebawah,situasi kuliah online menambah beban dan anggaran bulanan tentunya.
Membeli paketan yang mahal adalah hal yang tidak bisa di hindari lagi di saat ini, mahasiswa melakukan proses perkuliahan dengan online tentu sangat di rugikam apalagi harga pulsa paket di indonesia yang tergolong mahal ini, sedangkan uang kuliah,SKS masih berjalan normal. Adapun keringanan dari pemerintah dengan memberikan sedikit kelonggaran untuk menikmati pulsa gratis di ruang guru. Tetapi itu tidaklah mencukupi untuk manjawab kebutuhan mahasiswa untuk melakukan kuliah online, di tengah banyaknya tugas yang di emban oleh mahasiswa.
Kita tidak mempersalahkan siapa di sini dan saat ini ,karena kita semua tahu bahwa ini adalah sebuah bencana yang kita tidak tahu kapan ia datang, mungkin untuk perginya kita bisa prediksi.
Segala persoalan inilah yang kemudian kita dapat melihat bahwa eksistensi mahasiswa di tengah pandemi ini sangat terganggu dan menambah beban terutama ketika di lihat dari sisi ekonomisnya.
Penulis ; Jelo Jehalu

Wabah penyakit ini merupakan bencana bagi semua negara di dunia tentunya. Bahwasanya pandemi covid 19 ini bukan hanya soal banyaknya korban jiwa yang berjatuhan, tetapi juga bagaimana pengaruhnya terhadap perekonomian negara, sistem sosial, budaya dan politik di dalamnya. Pemerintah di sibukan dengan memikirkan dua hal dalam situasi ini, dalam artian bahwa pemerintah mencari berbagai solusi untuk mencegah dan mengatasi pandemi ini, sehingga kemudian tidak membawa dampak yang sangat besar, baik untuk kesehatan, perekonomian, sosial , politik dan hal lain yang ikut terimbas dari pandemi covid 19 ini.
Adapun cara yang di lakukan oleh pemerintah Indonesia saat ini, yaitu dengan adanya tagar "Di Rumah Aja",itu artinya bahwa segala aktivitas itu di kerjakan di rumah, baik untuk ASN, mahasiswa, dan anggota legislatif dan executif lainnya. Bukan hanya itu, istilah social distancing yang kemudian di rubah menjadi Psychal distancing juga merupakan pola dari pemerintah untuk memutuskan Rantai penyebaran covid 19. Menjaga jarak , menghindarai perkumpulan atau melakukan altivitas yang mengumplkan masa adalah arti dari Psychal distancing, yang mana kemudian di ikuti dengan tindakan tegas dari aparat keamanan untuk membubarkan masyarakat yang masih saja melanggar arti dari psychal distancing ini.
Tagar "RUMAH AJA", memiliki dampak yang besar bagi masyarakat terutama untuk para perantau dan mahasiswa yang bekerja dan berkuliah di luar daerah. Bagi perantau yang mencari nafkah baik untuk memenuhi kebutuhannya ataupun keluarganya, pandemi global covid 19 ini mempengaruhi pendapatanya bahkan mereka harus pasrah untuk tidak memiliki pendapatan lantaran, perusahaan merumahkan mereka. Situasi ini yang kemudian banyak yang memilih untuk pulang ke kampung halaman.
Apa yang mereka lakukan ini adalah bukan sebuah bentuk ketidakikutsertaan mereka dalam memerangi covid 19 ini,tetapi karena suatu keadaan yang memaksa mereka untuk malakukanya. Kecemasan itu sudah pasti, bahkan di tolak oleh keluarga di kampungpun itu sudah konsekwensinya, tetapi karena kondisi inilah yang membuat mereka tak berdaya, sehingga pada akhirnya kecemasan itu di jadikan sebagai urusan belakangan yang penting jangan mati kelaparan.
Sedangkan untuk Kalangan mahasiswa,kuliah online adalah hal yang menuai pro dan kontra ,dengan berbagai alasan yang samapaikan.
Bagi yang mampu atau orangtuannya memiliki kondisi ekonomi yang baik, bisa saja kuliah online ini tidak merugikan mereka ataupun kerugiannya tidak terlalu besar. Di bandingkan dengan mahasiswa yang ekonomi orang tuanya dalam kategori ekonomi kelas menengah kebawah,situasi kuliah online menambah beban dan anggaran bulanan tentunya.
Membeli paketan yang mahal adalah hal yang tidak bisa di hindari lagi di saat ini, mahasiswa melakukan proses perkuliahan dengan online tentu sangat di rugikam apalagi harga pulsa paket di indonesia yang tergolong mahal ini, sedangkan uang kuliah,SKS masih berjalan normal. Adapun keringanan dari pemerintah dengan memberikan sedikit kelonggaran untuk menikmati pulsa gratis di ruang guru. Tetapi itu tidaklah mencukupi untuk manjawab kebutuhan mahasiswa untuk melakukan kuliah online, di tengah banyaknya tugas yang di emban oleh mahasiswa.
Kita tidak mempersalahkan siapa di sini dan saat ini ,karena kita semua tahu bahwa ini adalah sebuah bencana yang kita tidak tahu kapan ia datang, mungkin untuk perginya kita bisa prediksi.
Segala persoalan inilah yang kemudian kita dapat melihat bahwa eksistensi mahasiswa di tengah pandemi ini sangat terganggu dan menambah beban terutama ketika di lihat dari sisi ekonomisnya.
Penulis ; Jelo Jehalu


Feeling good
BalasHapus