Tangisan Pilu Anak Rantau
Suara mahasiswa dari tanah rantau.
Oleh; Jelo Jehalu
Sudah sekian lama dunia dan indonesia di hantui dengan virus corona yang sangat berbahaya bagi manusia. Penyakit yang menyerang imunitas tubuh manusia ini,sudah memakan ribuan nyawa manusia di indonesia dan jutaan jiwa di seluruh dunia. Atas dasar ini semua negara mempunyai tantangan besar untuk menghilangkan penyakit ini dengan berbagai cara. Kebijakan yang di ambil penuh dengan rasa cemas. Cemas akan tidak efekif dan efisien, cemas akan kritikan dari masyarakat dan masih banyak keecemasan atau ketakutan yang menghantui pikiran pejabat publik yang membuat peraturan atau menciptakan kebijakan.
Di indonesia sendiri pemerintah tengah sibuk dengan mencari solusi untuk mengatasi covid 19 bahkan tak kalah sibuk dengan pembahasan RUU Omnibus law. Pada intinya adalah pemerintah sibuk demi rakyat.
Isolasi, social distancing, psychal distancing, adalah solusi dari pemerintah indonesia untuk mencegah dan mengatasi covid 19 ini. Di balik solusi ini ada keluhan dari penikmat kebijakan ini dalam hal ini adalah rakyat. Mungkin bagi yang kaya situasi ini di anggap biasa lantaran stok kekayaan untuk memenuhi kebutuhan hidup masih banyak,namun bagi rakyat miskin situasi sangat memperparah dan memperumit keadaan dari miskin menuju melarat.
Pendapatan yang menipis bahkan tidak ada membuat mereka harus pasarah dan terpaksa harus menantang sebagian aturan dari pemerintah bahkan sampai pada lompat ke laut hanya untuk pulang kampung karena di tanah rantau terlalu susah untuk bertahan hidup.
Kata di "rumah aja" hanyalah sebuah kata tanpa makna bagi kami rakyat miskin dan mahasiswa di tanah rantau. Hanya dua pilihan bertahan dengan kelaparan atau pulang membawa kecemasan.
Dua hal ini adalah hal yang sangat perlu di jawab bersama oleh pemerintah dan rakyat.
Bagi yang mampu dia pasti memilih bertahan karena memang dia layak untuk bertahan,tetapi bagi yang tidak mampu ya harus melawan dan urusan kecemasan keluarga di kampung itu urusan belakangan yang penting bisa makan.
Di kalangan mahasiswa dan perantau yang mengadu nasip demi sesuap nasi baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun keluaraga, situasi ini adalah malapetaka yang baru kali ini di alami,lain dengan para napi korupsi yang di rencanakan akan di bebaskan oleh bapak yosana laoly sebagai mentri. Pasti di apresiasi karena mereka menganngap situasi ini adalah berkah bagi napi korupsi.
Untuk itu kami sebagai perantau hanya bisa pasarah dan berdoa kepada yang mahakuasa agar situasi cepat berlalu dan kami kembali berakasi demi sesuap nasi yang meskipun basi. Mungkin saat ini ada pemkab atau pemerintah kabupaten yaang memberikan bantuan kepada mahasiswanya ada ada di luar daerahnya itu patut di apresiasi tetapi kami yang lain masih menanti seperti apa rekasi dari birokrasi sebagai nahkoda yang bisa membawa rakyatnya sampai pada tujuan.
Kami bukan mengemis , cuman kali kami benar- benar tak berdaya dan mati langkah. Memohon bantuan kepada saudara yang saat ini sedang bahagia tanpa ada rasa duka.
Suara kami bukan untuk menyudutkan tetapi ini adalah sebuah rasa yang lahir dari keadaan nyata dan kami sampaikan kepada saudara dengan kata- kata.
Kupang,10/04/2020
Oleh; Jelo Jehalu
Sudah sekian lama dunia dan indonesia di hantui dengan virus corona yang sangat berbahaya bagi manusia. Penyakit yang menyerang imunitas tubuh manusia ini,sudah memakan ribuan nyawa manusia di indonesia dan jutaan jiwa di seluruh dunia. Atas dasar ini semua negara mempunyai tantangan besar untuk menghilangkan penyakit ini dengan berbagai cara. Kebijakan yang di ambil penuh dengan rasa cemas. Cemas akan tidak efekif dan efisien, cemas akan kritikan dari masyarakat dan masih banyak keecemasan atau ketakutan yang menghantui pikiran pejabat publik yang membuat peraturan atau menciptakan kebijakan.
Di indonesia sendiri pemerintah tengah sibuk dengan mencari solusi untuk mengatasi covid 19 bahkan tak kalah sibuk dengan pembahasan RUU Omnibus law. Pada intinya adalah pemerintah sibuk demi rakyat.
Isolasi, social distancing, psychal distancing, adalah solusi dari pemerintah indonesia untuk mencegah dan mengatasi covid 19 ini. Di balik solusi ini ada keluhan dari penikmat kebijakan ini dalam hal ini adalah rakyat. Mungkin bagi yang kaya situasi ini di anggap biasa lantaran stok kekayaan untuk memenuhi kebutuhan hidup masih banyak,namun bagi rakyat miskin situasi sangat memperparah dan memperumit keadaan dari miskin menuju melarat.
Pendapatan yang menipis bahkan tidak ada membuat mereka harus pasarah dan terpaksa harus menantang sebagian aturan dari pemerintah bahkan sampai pada lompat ke laut hanya untuk pulang kampung karena di tanah rantau terlalu susah untuk bertahan hidup.
Kata di "rumah aja" hanyalah sebuah kata tanpa makna bagi kami rakyat miskin dan mahasiswa di tanah rantau. Hanya dua pilihan bertahan dengan kelaparan atau pulang membawa kecemasan.
Dua hal ini adalah hal yang sangat perlu di jawab bersama oleh pemerintah dan rakyat.
Bagi yang mampu dia pasti memilih bertahan karena memang dia layak untuk bertahan,tetapi bagi yang tidak mampu ya harus melawan dan urusan kecemasan keluarga di kampung itu urusan belakangan yang penting bisa makan.
Di kalangan mahasiswa dan perantau yang mengadu nasip demi sesuap nasi baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun keluaraga, situasi ini adalah malapetaka yang baru kali ini di alami,lain dengan para napi korupsi yang di rencanakan akan di bebaskan oleh bapak yosana laoly sebagai mentri. Pasti di apresiasi karena mereka menganngap situasi ini adalah berkah bagi napi korupsi.
Untuk itu kami sebagai perantau hanya bisa pasarah dan berdoa kepada yang mahakuasa agar situasi cepat berlalu dan kami kembali berakasi demi sesuap nasi yang meskipun basi. Mungkin saat ini ada pemkab atau pemerintah kabupaten yaang memberikan bantuan kepada mahasiswanya ada ada di luar daerahnya itu patut di apresiasi tetapi kami yang lain masih menanti seperti apa rekasi dari birokrasi sebagai nahkoda yang bisa membawa rakyatnya sampai pada tujuan.
Kami bukan mengemis , cuman kali kami benar- benar tak berdaya dan mati langkah. Memohon bantuan kepada saudara yang saat ini sedang bahagia tanpa ada rasa duka.
Suara kami bukan untuk menyudutkan tetapi ini adalah sebuah rasa yang lahir dari keadaan nyata dan kami sampaikan kepada saudara dengan kata- kata.
Kupang,10/04/2020



Komentar
Posting Komentar