Krisis Nasionalisme Generasi Muda


Oleh; Jelo Jehalu
Mahasiswa FEB UNWIRA Kupang.


         Generasi muda atau milenial di negara indonesia merupakan garda terdepan dalam membangun bangsa. Anggapan ini sudah menjadi tradisi yang tidak dapat di pisahkan dalam kehidupan masyarakat indonesia. Tokoh-tokoh tua ataupun public figur di negri ini selalu mengharapkan bahwa generasi muda harus mampu membawa perubahan untuk negara yang kaya akan segalanya.
Agent of change dan agent of control adalah hal yang lumrah dalam kehidupan generasi , ini adalah semacam julukan untuk pahalawan muda indonesia dalam menantang segala persoalan yang di alami, julukan ini tidak semata-mata hanya sebuah retorika saja, di balik itu semua istilah agent of change dan agent of control mempunyai harapan untuk adanya perubahan yang di lakukan oleh generasi muda terhadap bangsa ini, serta peran generasi muda dalam mengontrol dengan mengkritisi segala kebijakan pemerintah. Satu hal yang perlu di ingat bahwa sebagai agen perubahan kita tidak hanya melakukan sebuah perubahan saja namun kita perlu manjaga dan merawat spirit perjuangan dan keutuhan NKRI, hanya dengan cara ini Nasionalisme generasi muda tumbuh dengan sendirinya.
 
       Tugas dan tanggung jawab ini harus di tanamkan dalam paradigma pemikiran generasi muda dengan alasan bahwa , julukan itu bisa menjadi hal yang fundamental dalam setiap pergerakan generasi muda untuk menjalan Tupoksinya sebagai agent of change dan agen of contorl.
    Era globalisasi ,di mana loncatan perkembangan jaman dengan kehadiran teknologi yang semakin canggih untuk memudahkan masyarakat indonesia dalam melakukan aktivitas keseharianya. Roda terus berputar dunia selalu berinovasi, negara di seluruh dunia berusaha untuk menciptakan hal baru untuk meningkatkan perekonomianya. 
    Perkembangan teknologi secara global ini membuat setiap insan manusia termasuk generasi muda di tuntut untuk bisa menghadapi dan memanfaatkan teknologi secara bijak.
    Di jaman yang modern ini nampaknya krisis nasionalisme sudah mulai terkikis dalam kehidupan generasi muda bangsa, hal demikian dapat kita lihat dari berbagai aspek. Ada yang berpandangan bahwa krisis nasionalisme/cinta terhadap tanah air itu dapat di lihat dari pergerakan mahasiswa dalam memperjuang dan meneriakan keadilan yang kian hari menurun dalam artian bahwa sedikitnya generasi muda yang turun ke jalan untuk meneruskan teriakan HIDUP MAHASISWA dalam mengkritisi kebijakan pemerintah, Namun bagi saya bahwa itu tidak sepenuhnya benar, kita tidak bisa mengukur kecintaan seseorang terhadap bangsanya hanya dengan demonstarasi. Di awal tadi sudah kita tahu bahwa sekarang kita dalam loncatan jaman yang begitu cepat dan bagi saya pola atau cara dalam mengkritisi kebijakan pemerintah itu juga harus berubah, bahwasanya generasi muda saat ini yanh memuja teknologi bisa memanfaatkanya dengan baik untuk hal yang bermanfaat seperti mengkrtitisi kebijakan publik. Sekalipun berorganisasi ataupun demonstarsi merupakan bentuk kecintaan kita terhadap tanah air ini,
     Sedikit saya gambarkan bagaimana krisis nasionalisme generasi muda saat ini di tengah jaman yang memuja teknologi ini.
Apel bendera, menyanyikan lagu indonesia raya, mendengarkan pemcaan teks pancasila ,merayakan hari pahlawan, hemat saya semua ini hanyalah sebuah simbol saja tanpa mengetahui makna yang sebebarnya, sebagai contoh ada yang tidak mengikuti apel bendera hanya karena alasan panas, tanpa di pahami bahwa merah putih  berkibar hari ini atas dasar perjuangan di bawah terik matahari dan penindasan yang begitu keji, tetapi dengan gampangnya kita mempermainkan itu semua.
Indonesia sendiri sebgai negara yang kaya akan sumber daya alam (SDA) dan masih minimnya SDM dalam menunjang kegiatan produksi hasil kekayaan alam yang berlimpah, membuat negara ini harus bergantung terhadap negara lain secara ekonomi.
Sebagai negara yang minim SDM kita membutuhkan negara lain untuk memenuhi kekurangan tersebut (tidak sepenuhnya), kita hanya sebagai pengexpor dan meikmati produk luar negri. Di satu sisi ketergantungan kita akan berdampak positif ketika di lihat dari sisi ekonominya. Namun di sisi lain ketika kita hanya sebagi penikmat hasil produksi negara lain kecendrungan kita untuk cinta terhadap produk luar negripun juga sangat tinggi, dan apa yang tejadi? Kita pasti akan di landa krisis nasionalisme.
 Sebagai contoh ; kita menggunakan produk luar seperti kosmetik, minuman, makanan dan lainnya. Sementara kita masih mempunyai produk kue ,minuman,kosmetik utnuk memnuhi kebutuhan kita. Hal ini dasarnya adalah terlalu besarnya ketergantungan kita terhdap negara lain sehingga kita lupa akan hasil produksi sendiri.
Hal- hal seperti inilah yang kemudian bisa mengikis jiwa nasionalisme generasi muda indonesia saat ini. Dan bagaimana agar pengikisan rasa nasionalisme ini tidak sampai pada akarnya atau sampai hilang? Bagaimana caranya,?. Hemat saya bahwa cara yang paling baik adalah kita harus kembali kepada sejarah , dan mengurangi kecanduan terhadap produk luar.
 
  Kupang, 1 april 2020


Komentar

Postingan Populer