Menanti Super Hero Pada pilkada Manggarai Barat.

 Oleh: Jelo Jehalu 
Alumni:SMAK. st Markus

   Indonesia adalah salah satu negara yang menjalankan sistem demorkasi dalam memilih pemimpin negara ataupun daerah melalui pemilihan umum (Pemilu) dan sudah di jalankan dalam kurun waktu yang tergolong sangat lama. Sistem demokrasi secara sah di cantumkan dalam Undang-Undang (UU), untuk kemudian di lindungi agar berjalan sesuai dengan asas dari demkorasi itu sendiri. Prinsip atau asas budaya demokrasi indonesia adalah dari,oleh dan untuk rakyat. Ketiga prinsip merupakan hal yang fundamental dalm melahirkan pemimpin negara yang sesuai dengan keinginan masyarakat indonesia. Pergantian pemimpin di negara indoenesia pasca orde baru sudah membuktikan bahwa demokrasi ini sudah di terapkan dan  berjalan dengan aman,damai dan adil. Hal ini dapat kita lihat dan dengar melalui ucapan apresiasi dari negara luar atas terselenggaranya pemilu di indonesia dengan aman dan damai.
   Kehadiran partai politik dan juga pemimpin yang di usung dari partai politik  dalam demokrasi bangsa ini,tentu mempunyai paradigma pemikiran dan memiliki orientasi yang terstruktur dan sistematis untuk kesejahteraan masyarakat dan dan kemajuan bangsa,baik secara ekonomi, sosial,maupun politik.
   Tahun 2020 indonesia akan adakan kembali pesta demokrasi dengan adanya pemilihan kepala daerah di beberapa provinsi di indosia dan salah satunya adalah kabupaten Manggarai Barat provinis NTT. Dalam momentum pilkada di manggarai barat ini, hingar bingar serta isu, bakal calon sudah mulai di lihat dan di dengar di telinga publik,pemasangan baliho dengan menampilkan foto setengah badan di sertai senyuman manis penuh bermaknka di sebagian wilayah manggarai barat sudah ada,Bakal calon sudah mulai mengetuk pintu partai politik bahkan pintu rumah rakyat untuk mendapatkan dukungan demi mencapai kesukesan dalam kontestasi pilkada manggarai barat.,plosok Mabar sudah mulai di telusuri dengan membawa visi misi dan mengajak masyarakat ngopi bersama sambil berdiskusi, seakan sang pahlawan datang menyelamatkan mereka.
    Pergeseran tongkat estafet kepimpinan di Manggarai Barat sudah di jalankan beberapa kali dalam kurun waktu 16 tahun, pemilukada yang berjalan dengan damai,adil,jujur sudah di jalankan,tetapi itu semua tidak sinkron dengan Kehadiran pemimpin di Manggarai barat. Sebagai contoh pemilukada boleh berjalan dengan damai tetapi kok masih ada perkelahian di dalam birokrasi mabar dalam bentuk adu jotos antara kabag humas dan kabag organisasi Manggarai Barat,kemudian soal adil; Apakah adil ketika suatu pembangunan yang sudah di tetapkan namun setelah itu di pindahkan begitu saja tanpa ada argumentasi yanh kuat. Pemindaham lokasi pembangunan dermaga niaga di bari kecamatan macang pacar,adalah bukti bahwa keadilan itu senediri belum sepenuhnya di jalankan.  Dan bagi saya kehadiran pemimpin di mabar di tengah kekayaan alam mabar belum sepenuhnya menjawab atau menyelesaikan kesenjangan atau problematika di manggarai barat, hal demikian kita dapat melihatnya secara kasat mata di beberapa kecamatan di manggarai barat. Salah satu contoh di kecamatan macang pacar, Bagi saya kecamatan macang pacar tergolong salah satu daerah tertinggal di kabupaten manggarai barat, ketika kemudian di lihat dari berbagai aspek seperti Infrastruktur yang belum memadai, air bersih,fasilitas kesehatan yang belum memadai. Hal ini sangat nyata dalam kehidupan masyarakat macang pacar dan mungkin bukan hanya kecamtan macang pacar yang merasakan ini bahkan di kecamatan lain juga merasakan hal yang sama.
    Berbagai persoalan inilah yang kemudian masayarakat Macang pacar bahkan manggarai barat pada umumnya menanti pemimpin yang mempunyai kapabilitas dalam memimpin dan bisa menyelamatkan masyarakat manggarai barat dari ketertinggalan. Ini adalah impian atau kerinduan dari masyarakat manggarai barat untuk pemimpin manggarai barat dan bukan malah sebaliknya bahwa persoalan ini  di jadikan oleh bakal calon bupati manggarai barat untuk menggiring publik dengan menebarkan janji politik  saat kampanye hanya untuk kepentingan tertentu dan untuk mendapatkan kekuasaan. Karena banyak hal yang di lakukan oleh bakal calon untuk meningkatkan elektabilitas yaitu dengan cara menebarkan janji untuk mengatasi segala persoaalan di manggarai barat namun itu tidak sesuai dengan fakta di masyarakat dan bagi saya ini adalah bentuk retorika bohong dengan merangakai janji politik sebaik mungkin tanpa ada kata kasar sekalipun  dan menjadikan publik sebagai target dari mafia politik bukan untuk kesejahteraan.
 "Lebih baik tidak bisa berbuat apa-apa dari pada mendapatkan suatu posisi atau jabatan tetapi tidak bisa berbuat apa-apa" di kutip dari sebuah buku "GENERASI POLITIK MATI RASA".



   

Komentar

Postingan Populer